3 May 2007 : Career Woman vs Full Time Housewife

Sebulan yang lalu, saya sudah berniat untuk mengajukan pengunduran diri dari kantor saya. Alasannya, saya harus ikut suami pindah ke kampung halamannya, Flores. Tanpa disangka-sangka, si boss sudah “mengendus” niat saya tersebut. Alhasil, seminggu yang lalu saya dipanggil oleh beliau.

 

Tanpa ba..bi..bu.. lagi, beliau langsung berkata “Elisa..ga usah keluar lah..Kamu tetep kerja di sini ajah..”. Lalu saya jawab, “Ga bisa bu, saya kan harus ikut suami pulang kampung, makanya saya harus ikut ke Flores”. Boss membalas, “Kamu tetep di Jakarta aja, nanti suamimu ajah yg bolak-balik Flores-Jakarta-Flores every month. Kamu tahu ga kalo kamu punya kualitas yang oke, makanya tetep kerja di sini. Kalo kamu jadi full time ibu rumah tangga, sayang loh, nanti kamu ga berkembang”…

 

Dalam hati saya menjawab, “Enak banget neh si boss…Emangnya tiket flores-jakarta murah? Kalo dia mau bayarin sih ga papa, saya jabanin deh…”. 
Tanpa saya sadari, kata-kata boss mulai memunculkan rasa bimbang dalam hati saya, yaitu kebimbangan antara mau resign atau tetep kerja. 
Memang dari sejak awal, pergumulan saya adalah memutuskan antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga. Menjadi seorang wanita karir yang sukses adalah impian saya dari dulu. Namun seiring dengan keputusan saya untuk menikah di usia muda, kayaknya impian saya tidak relevan lagi, bahkan harus kandas ditengah jalan. 

 

Saya menilai diri saya sendiri sebagai sosok yang ambisius dalam hal berkarir, ekstrimnya, saya dengan rela hati akan lembur bahkan ga tidur hanya untuk mengerjakan tugas-tugas kantor. Bagi saya, pekerjaan bukan hanya sarana untuk mencari uang, namun  merupakan sarana untuk mengaktualisasikan diri saya. 

 

Ada kalanya sifat ambisius saya ini tidak sehat bagi hubungan saya dengan calon suami saya. Soalnya, saya cenderung lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan calon suami. Pernah suatu saat calon suami sakit lumayan berat. Pada umumnya dalam hubungan pacaran, si pihak wanita akan langsung menjenguk cowoknya yang lagi sakit, mengantar ke dokter, atau memasak bubur bagi kekasihnya. Namun tidak demikian halnya dengan saya. Saya justru lembur dan pulang sekitar jam 10 dari kantor sebab saya harus mengerjakan beberapa tugas yang memang lagi banyak-banyaknya. 

 

Peristiwa ini semakin mendukung keputusan saya untuk resign dari kantor setelah saya menikah. Ga lucu donk kalo anak atau suami saya sakit tapi saya malah lebih mementingkan pekerjaan di kantor. 

 

Bagi saya, memutuskan untuk menikah bukanlah sesuatu yg simple, malahan merupakan sesuatu yg cukup complicated. Pernikahan melibatkan banyak orang dan banyak keputusan yang bijaksana. Saya sadar betul bahwa tujuan dari semua pernikahan di dunia ini adalah menciptakan keluarga yg berkualitas. 

 

Makanya, akan lebih bijaksana bagi saya untuk melepaskan impian menjadi wanita karir daripada melihat keluarga saya (dan terutama anak saya) berantakan gara-gara ambisi saya yang berlebihan dalam berkarir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s