July 2007 : Buang waktu (dan uang) di Surabaya…

Sebelum berangkat ke Flores, saya dan suami memutuskan untuk hijrah ke Surabaya. Selain karena kami harus repacking beberapa barang dari Jakarta untuk dikirim ke Flores, kami juga ingin bersenang-senang terlebih dahulu sebelum memasuki “kehidupan yang sebenarnya”.

 

Cukup lama juga kami menghabiskan waktu di Surabaya, sekitar 14 hari, mulai dari tanggal 4 hingga 18 Juli 2007. Hari-hari di Surabaya kami lewatkan dengan packing barang (fyi, barang yang harus kami packing banyak banget, sampe kami harus tidur pukul 2 am tiap hari), nonton bioskop, jalan-jalan ke Mall, hingga beli beberapa kebutuhan untuk rumah tangga kami.

 

Lucu rasanya mengingat pengalaman kami di Surabaya saat itu. Walaupun terkesan kegiatan yang biasa-biasa saja, tapi melalui kegiatan-kegiatan itu saya benar-benar merasakan perbedaan antara berpacaran dengan berumah tangga.  

 

Pada saat kami berpacaran misalnya, saya masih bisa dengan seenaknya sendiri pergi kesana kemari tanpa memikirkan calon suami. Namun sekarang sungguh berbeda, kemanapun saya pergi, saya dituntut untuk selalu mengingat dia, apakah suami sudah makan? Apa rencana dia hari ini? Apakah saya bisa jalan-jalan dengan teman SMA saya?

 

Begitu pula pada saat membeli kasur spring bed pertama kami. Kami berdua mempunyai keinginan yang berbeda akan jenis spring bed yang akan kami beli. Saya menginginkan kasur yang empuk dan bermerek, sedangkan dia menginginkan spring bed jenis apapun tanpa melihat mereknya. Saat itu, kami bener-bener berusaha untuk menyatukan pendapat dan mencari jalan keluarnya. Bener-bener diasah melalui peristiwa-peristiwa kecil deh…

 

Perbedaan lainnya yang cukup mencolok saya temukan pada saat kami berdua harus berbelanja untuk keperluan rumah tangga kami. Sebelum menikah, saya hanya membutuhkan waktu setengah jam di supermarket untuk membeli perlengkapan mandi, snack, dan detergen buat saya. Namun rutinitas berbelanja setelah menikah benar-benar berbeda. Kami dituntut untuk berpikir secara detail apa saja sih keperluan rumah tangga yang benar-benar kami perlukan.

 

Pengalaman pertama kami berbelanja bersama adalah pada tanggal 17 Juli 2007 di Carrefour Mayjen Surabaya. Kebetulan saat itu kami harus membeli semua perlengkapan rumah tangga di Surabaya, sebab kami tidak yakin apabila keperluan-keperluan tersebut dijual di Flores. Saat itu, sebagai sepasang amatir, kami tidak menyiapkan daftar belanja perlengkapan rumah tangga kami. Alhasil, kami harus menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana untuk menyusuri lorong demi lorong dan memilah-milah produk apa yang kami perlukan beserta dengan mereknya yang terbaik. 

 

Shampoo, sabun, pasta gigi, deterjen, pembersih lantai, pembersih kaca, pembersih kloset, pengharum ruangan, pengharum lemari, kain lap, sapu, kain pel, tissue, hingga pisau dapur memenuhi kereta dorong belanja kami. Jujur, barang-barang tersebut tidak pernah masuk dalam daftar belanjaan saya sebelumnya. 
Yang membuat saya makin shock adalah pada saat si petugas kasir mengatakan jumlah belanjaan kami yang mencapai 7 digit.. Saat itu saya berkata dalam hati, “Waow..banyak bener..Ternyata kehidupan rumah tangga tidak hanya memerlukan penyesuaian karakter, namun juga penyesuaian isi dompet…” Hehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s