Bunuh diri karena Rp.20.000 ???

Saya kaget membaca tweet Mba Alisa Wahid (putri dari alm. Gus Dur), mengenai seorang ibu yang membakar dua anaknya, berumur 4 tahun dan 2,5 tahun. Diduga penyebabnya adalah karena si ibu mempunyai utang sebesar Rp. 20.000,-

Hati saya miris. Apa sih arti uang Rp. 20.000 bagi saya dan Anda? Namun ternyata  uang Rp. 20.000 ini besar sekali artinya bagi ibu ini. Sampai-sampai si ibu rela mengorbankan nyawanya hanya untuk uang yang bagi kita bernilai kecil.

Himpitan ekonomi  seringkali dialami oleh masyarakat kelas bawah di kota-kota besar terutama di Jakarta. Akibatnya? Tingkat kejahatan, termasuk pembunuhan, pencopetan, penodongan, dan bunuh diri meningkat.

Seringkali saya berpikir, “Mengapa orang-orang ini tidak memikirkan cara-cara lain sebelum melakukan kejahatan-kejahatan diatas?” Misalnya dengan bertransmigrasi ke luar pulau, sebab lapangan pekerjaan di luar pulau sangat banyak. Dalam hal ini, saya akan mengambil contoh kota Labuan Bajo Flores mengingat saya tinggal di kota ini.

Labuan Bajo menyimpan sejuta potensi alam yang sangat mendukung kemajuan industri pariwisata dan perdagangan di kota ini. Potensi alam yang saya maksud adalah keindahan laut, kekayaan hasil laut (ikan dan mutiara), tanah yang subur, bahkan adanya Komodo di kota ini.

Potensi alam ini banyak dilirik oleh pengusaha asli Indonesia maupun pengusaha asing. Apalagi sejak Komodo masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia, banyak hotel baru bermunculan, baik hotel kelas melati maupun bintang empat, seperti Hotel Jayakarta, Hotel Bintang Flores (satu group dengan Ramada Hotel Bali), Angel Island Resort (PMA), dan Kanawa Island (PMA).

Selain hotel dan restaurant, investor juga tertarik dengan industri yang berkaitan dengan kekayaan alam seperti ikan, mutiara, kayu, singkong, kopi bahkan tambang emas. Berkaitan dengan hasil bumi ini, saat ini sudah ada perusahaan asing yang menanam modal di Labuan Bajo, yaitu perusahaan asing dari Korea, Cina dan Jepang.

Masuknya investor ini membangkitkan perekonomian Labuan Bajo dan membuka lapangan pekerjaan di sini. Namun sayangnya, kualitas SDM local tidak mampu memenuhi tuntutan dari industri-industri tersebut. Mengapa?

Beberapa faktornya karena :

1.        Pendidikan mereka sangat rendah 

Banyak dari penduduk local hanya lulusan SD. Hitungan matematika yang simple seperti  2+1=3 saja seringkali mereka tidak tahu, bahkan mereka juga tidak terlalu paham warna. Banyak dari mereka juga tidak dapat menulis dengan baik dan benar. Apalagi kemampuan berlogika, mereka tidak mempunyai kemampuan ini.  

Jangankan mengoperasikan mesin-mesin canggih milik investor, mengikuti perintah sederhana saja mereka tidak mampu. Misalnya suatu hari saya menyuruh pembantu saya menggoreng telor dengan mentega, tetapi mereka menggoreng telor dengan minyak goreng. 

2.        Kondisi alam yang sangat subur.

Tanah di desa asal para pekerja sangat subur, istilahnya mereka tidak bekerja pun masih bisa makan dengan memetik sayuran di kebun mereka. Akibatnya mereka mencari pekerjaan bukan karena butuh makan, namun untuk mencari jodoh, refreshing di kota, dan alasan-alasan lainnya.

 

Rendahnya kualitas SDM Labuan Bajo merupakan masalah besar bagi pelaku industri. Apalagi bagi pelaku industri yang sudah berkelas, seperti hotel bintang empat dan perusahaan asing.  Bagi pelaku industri, ibaratnya seperti menjalankan mobil tanpa roda. Mereka mempunyai SOP, peralatan penunjang yang canggih, dan kebijakan perusahaan yang professional, namun ini semua tidak dapat diterapkan karena rendahnya kualitas SDM.

Akhirnya banyak pelaku industri membawa SDM dari pulau Jawa. Bukannya karena tidak mau mengembangkan penduduk lokal. Namun industry ini tidak dapat menunggu sampai SDM ini terbentuk. Perbaikan kualitas SDM ini jelas membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu, untuk mendukung jalannya bisnis, mereka menggabungkan SDM dari pulau Jawa dengan penduduk lokal. Harapannya agar SDM Jawa setidaknya dapat menukarkan ilmu dan mental mereka kepada penduduk lokal.

Dari gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa lapangan pekerjaan di luar pulau masih terbuka lebar, antara lain:

1.      Bagi orang berpendidikan rendah, dapat bekerja sebagai pegawai di toko, petani, nelayan, tukang kebun di hotel, buruh bangunan, ataupun pembantu di rumah tangga dan hotel (housekeeping).

2.      Bagi orang berpendidikan SMA atau perguruan tinggi, dapat bekerja sebagai receptionist, kasir di supermarket atau hotel/restaurant, tenaga pemasaran, tenaga penjualan, tour guide, serta baby sitter.

Oleh karena itu, menurut saya salah satu cara untuk menekan angka kejahatan di kota besar dan meningkatkan kesejahteraan masayarakat Indonesia adalah dengan menggalakkan program transmigrasi. Melalui program transmigrasi banyak hal dapat terwujud, antara lain pemerataan penduduk dapat tercapai, orang miskin di kota besar dapat memperoleh pekerjaan, serta perekonomian daerah meningkat.

Tentu saja hal ini perlu mendapatkan dukungan dan perencanaan yang serius dari pemerintah. Setidaknya pemerintah perlu menyiapkan dana untuk biaya akomodasi mereka ke luar pulau serta memberikan kredit lunak kepada mereka sebagai modal awal di luar pulau.

Intinya, masalah kemiskinan di negara Indonesia harus dituntaskan. Baik pemerintah maupun kita sebagai bangsa Indonesia perlu terlibat untuk menekan angka kejahatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kita semua harus bertindak agar Indonesia merdeka dari kejahatan dan juga merdeka dari kebodohan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s