COMPETITIVE MOMMY…

Saya suka shock dengan mama-mama jaman sekarang. Sangat competitive…Ingin anaknya menjadi yang terpintar dan terdepan dalam segala hal. Itulah mengapa banyak mama memaksa anaknya yang masih berusia dini untuk bisa calistung (baca, menulis, dan hitung)…  

 

Tipikal mama jenis ini selalu bingung dan panik di saat melihat anak temannya lebih pintar daripada anaknya. Ga heran jika dalam pertemuan sesama mama, pasti pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “Anakmu udah bisa apa?”   

 

Ga munafik, saya juga terkadang seperti itu.   

 

Buat saya yang tinggal di (desa) Labuan Bajo, perkembangan anak kota menarik rasa penasaran saya. Pendidikan Labuan Bajo sangat rendah, makanya saya ingin tahu apa saja yang diajarkan di kota agar setidaknya anak saya tidak jauh tertinggal dibandingkan anak kota lainnya.   

 

Saya suka tertakjub-takjub dengan beberapa anak teman saya. Rata-rata dari mereka berumur 2,5 – 3 tahun dan semuanya sudah masuk sekolah. Apa saja yang diajarkan di sekolah ? Calistung tentunya. Bahkan ada juga yang mengajarkan anaknya membaca sejak bayi dengan metode flash card Glenn Doman.   

 

Bagi saya, sah-sah saja apabila seorang mama ingin menstimulasi anaknya. Apalagi dari usia 0 hingga 5 tahun adalah golden age, periode emas perkembangan otak anak. Namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai over stimulasi   dan ujung-ujungnya bikin anak nangis dan stress (nah loh…). Bisakah anak stress? Tentu saja bisa. Nature dari balita adalah bermain dan bukan belajar.    

 

Banyak juga diantara para mama yang meminta kepada pihak sekolah untuk menaikkan tingkatan kelas anak mereka. Misalnya semestinya si anak kelas satu sd, mama minta agar anaknya langsung naik kelas 2.   

 

Alasan yang sering dilontarkan adalah “Anak saya sudah bisa kok”. Saya setuju apabila si anak sudah bisa kemampuan anak kelas 1. Tapi, pertanyaan saya apakah ukuran kepintaran itu selalu dari kemampuan? Bagaimana dengan sisi psikologisnya?    

 

Contohnya Nicole. Saya bersyukur diberi anak yang lumayan pintar. Bukannya mau bermaksud sombong, Nicole yang berusia 2 tahun 10 bulan sudah bisa mengenal bentuk (ing-indo), warna (ing-indo), nama-nama binatang dan benda (inggris indo), menyanyi hampir semua lagu anak-anak (indo-ing), menghitung jumlah benda, serta mengenal angka dari 1-20. Sebenarnya kemampuan Nicole merupakan alasan yang tepat untuk memasukkannya ke TK.   

 

Tapi saya memutuskan untuk tidak. Alasannya simple. Anak saya masih terlalu kecil (belum genap 3 tahun). Sisi emosi dia masih belum stabil selain itu dia masih suka bermain. Kalo saya memaksakannya masuk sekolah, ibarat menghasilkan produk karbitan. Saya tidak mau menghasilkan buah yang matang sebelum waktunya.   

 

Dan yang terutama, bagi saya kecerdasan tidak hanya mencakup kemampuan (IQ) saja, tapi juga emosi si anak (EQ).   

 

Saya sebagai seorang mama memilih jalan tengah. Saya tetap menstimulasi dengan cara  yang fun dan tentu saja melibatkan permainan. Di sisi lain, saya juga membebaskan anak saya untuk bermain.    

 

Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa beda tipis antara menstimulasi dengan memaksa. Seringkali alasan mama adalah “Aku kan ingin anakku pintar…Ini kan untuk kebaikannya sendiri”. Oh well, saya malah berpikiran, bukannya ini salah satu bentuk ambisi mama? Bukannya kalo anak pintar kita yang senang karena dipuji-puji orang lain?   

 

Sepertinya sebagai mama kita perlu membedakan antara apa yang baik untuk anak dan ambisi kita sendiri. Ingat, anakmu bukanlah kamu. Mereka punya hidup sendiri. Kegagalan mama di masa lalu bukanlah alasan untuk menjadikan anak sebagai SUPER KIDS.  

 

Puisi favorit saya dari Kahlil Gibran sangat menjelaskan maksud dan pemikiran saya….   

 

Anak-anakmu

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu.

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu.

Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri.

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka.

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi.

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu.
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu.

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan.

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan.
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan…

One thought on “COMPETITIVE MOMMY…

  1. Pingback: Character Building | juicymomdiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s