Upgrade the facility, please..

Selama tinggal di Labuan Bajo masalah terbesar saya adalah fasilitas kesehatan di kota ini. Yakni mencakup tersedianya dokter spesialis yang handal (disini hanya ada dokter umum) serta kelengkapan alat-alat medis lainnya (misalnya : USG).
 
Saya paling parno jika si Nicole sakit. Di Labuan Bajo tidak ada dokter spesialias anak. Saya kurang sreg bila Nicole ditangani oleh dokter umum (mungkin ini hanya pikiran paranoid dari perfectionist mommy like me). Saya juga paling anti dengan dokter yang dikit-dikit suka kasi antibiotic untuk menyembuhkan anak-anak.
 
Begitu pula dengan imunisasi. Imunisasi yang tersedia di Labuan Bajo tidak lengkap. Oleh karena itu saya harus bolak balik Labuan-Surabaya-Labuan hanya untuk melengkapi imunisasi Nicole. Banyak diantara teman saya yang membawa imunisasi dari Surabaya. Lalu meminta bantuan dokter untuk menyuntikkannya ke anak mereka,. Tapi sekali lagi saya kurang sreg melakukannya.
 
Alasan saya takut imunisasinya rusak. Imunisasi harus disimpan pada batas derajat tertentu (saya lupa berapa derajat celcius). Nah, bagaimana cara kita memastikan kalau si imunisasi itu tetap dalam suhu tersebut? Bagaimana jika di saat perjalanan dari Surabaya ke Labuan Bajo si imunisasi itu mengalami perubahan suhu? Selain itu, Flores langganan mati lampu. Bagaimana bila saat kita menyimpan imunisasi di kulkas tiba-tiba listrik padam? Oh well., mungkin ini hanya pikiran parno saya saja…..
 
Saya juga mengalami sendiri pengalaman pahit sehubungan dengan minimnya fasilitas kesehatan.
 
Sekitar awal bulan Oktober 2010 saya mengetahui bahwa saya hamil anak kedua Namun karena saya terlalu capek, akhirnya timbul flek. Saya takut bukan main. Saya takut janin saya cacat.
 
Lalu saya pergi ke seorang dokter umum di kota ini. Namun beliau tidak dapat memastikan karena tidak ada USG. Akhirnya saya pun menghubungi dokter kandungan langganan saya di Surabaya. Dsog Surabaya menyarankan untuk membeli obat penguat janin. Sialnya, obat itu tidak tersedia di Labuan Bajo dan saya harus membeli dari Surabaya.
 
Perjalanan si obat dari Surabaya ke Labuan Bajo memakan waktu 3 hari (melalui ekspedisi pesawat). Selama 3 hari itu flek saya tidak kunjung berkurang, malahan tambah parah. Akhirnya saya pun dianjurkan untuk bed rest.
 
Puncaknya tanggal 9 Oktober pukul 3 dini hari pendarahan saya makin banyak. Saya panik, begitu pula dengan suami saya. Kemudian jam 8 saya pingsan dan dibawa ke puskesmas.
 
Semuanya serba pertama –> pendarahan pertama, pingsan pertama, dan ke puskesmas pertama.
 
Sedihnya, janin saya tidak terselamatkan. Saat itu saya benar-benar mempertaruhkan nyawa, antara hidup dan mati. Puji Tuhan saya bertemu dengan bidan yang berpengalaman, beliau pernah bekerja di Jawa.
 
Namun alat dan tenaga medis disini sangat terbatas. Saya menerima perawatan ala kadarnya dan berdasarkan kira-kira, tidak ada alat medis penunjangnya. Saya dianjurkan untuk kuret di Surabaya atau Bali.
 
 
Suami pun mencari tiket pesawat agar saya dapat ke Surabaya secepatnya. Saya terancam gagal ke Surabaya sebab saat itu adalah musim naik haji, semua tiket pesawat sudah habis terjual.  
 
 
Tuhan sangat baik, Dia membuka jalan dan secara ajaib saya mendapat tiket merpati ke Denpasar pukul 2 siang. Sesampainya di Denpasar saya dibantu oleh seorang tante, adik ipar, dan sahabat suami (Yong) –> thanks a lot Yong…
 
 
Oleh karena kondisi saya masih kuat, saya pun memutuskan untuk lanjut ke Surabaya. Saya langsung masuk ke Rumah Sakit Husada Utama dan menerima tindakan medis yang jauh lebih baik, Saya pun kuret di rumah sakit ini.
 
 
Saya sebel banget dengan fasilitas kesehatan di Labuan Bajo, coba seperti di Surabaya, pasti janin saya terselamatkan. Semestinya Labuan Bajo yang merupakan kabupaten sudah mempunyai rumah sakit, tapi yang ada malahan puskesmas.
 
 
Saya sedih sekali harus kehilangan janin saya, terutama saat bidan mengeluarkan janin, dan berkata kepada suami, “Pak, ini janinya” GILA !!!! Saya langsung ga berhenti nangis.
 
 
Memang dia masih janin, tapi dia sudah bernyawa..Saya merasa gagal sebagai mama.  Mengapa saya tidak dapat mempertahankannya?
Seriously Labuan Bajo harus memperbaiki fasilitas kesehatannya. Labuan Bajo harus mempunyai Rumah Sakit. Jangan sampai kejadian ini terulang baik oleh saya maupun warga Labuan Bajo lainnya.
 
 

Dipikir dengan akal  sehat, semestinya saat ini saya sudah di surga (or neraka)…Jika saya masih hidup hingga sekarang, itu karena kasih karunia Tuhan…Tuhan, terima kasih atas setiap pertolonganmu, dan juga atas keluarga dan teman yang selalu membantu saya. Thx a lot….I love u , God. 

 

PS : yang membuat saya tambah BETE adalah  saat menerima tagihan dari RS. Husada Utama. Biaya kuret sama dengan biaya melahirkan Nicole. Bedanya yang satu pulang dengan membawa baby dan satunya tidak membawa baby…SAKIT !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s