Bali Trip #4 : Waterboom

Tanggal 29 Desember 2010, cuaca di Bali cerah sekali…Finally rencana ke waterboom terealisasi..

Hari itu waterbom seperti lautan manusia…Saking banyaknya orang, air kolam pun keruh warnanya dan rasanya asin. Bukan berarti saya sengaja tes rasa airnya ya. Waktu itu tidak sengaja tertelan..yaks..wkwkkwkwk…Kebanyakan dipipisin orang kali ya? Hehehhe…

Nicole betah banget di waterboom. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat kolam renang yang super duper gede buangetttt….Yang paling membuat dia senang bukan kepalang adalah luncuran di waterbom tersebut. Fyi, Nicole senang sekali bermain luncuran.

Saking betahnya, kami menghabiskan waktu setengah hari full di sana. Kami tiba pukul 11.30, dan baru berhenti sekitar 18.30. Gila kan? Lama bener..Abisnya Nicole ga mau pulang sampai si pihak waterboom mematikan lampu di sekitar arena kolam (ini cara halus untuk mengusir pengunjung..hehehehe..).

Atas paksaan suami, saya yang awalnya ga mau ikutan berenang akhirnya nyemplung juga. Sebenernya saya nih bukan orang yang suka berpetualang dan suka alam. Makanya yang namanya berenang tuh males bener…Tapi suami berkata, “Udah bayar mahal-mahal, malah cuman duduk ga mau berenang.” Dengan susah payah pun saya mengangkat pantat dan nyemplung ke kolam…

Emang bener sih, tarif masuk ke Waterboom mahal banget. Dan mereka memukul rata tarif semua orang yang masuk ke sana (tanpa memandang orang itu akan berenang atau ga). Dan pendapat suami saya ada benernya, masak udah bayar mahal tapi tidak memanfaatkan fasilitas?

Ini adalah pertama kalinya saya masuk dan bermain di waterboom. Yeah, I know mungkin kesannya saya kampungan banget. Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, waterboom tidak pernah menarik minat saya.

Yang membuat saya terkagum-kagum dengan waterboom bukanlah luasnya arena dan banyaknya permainan air yang ditawarkan, melainkan, teknologi barcode yang dijalankan di sana.

Pada saat membayar tiket masuk, kasir waterboom akan memberi sebuah gelang. Lalu mereka akan bertanya berapa duit yang mau kita isi di gelang tersebut. Apabila mau membeli makanan, kita cukup scan barcode pada gelang tersebut.

Saya tidak tahu apa alasan tepatnya mereka menggunakan barcode. Apakah untuk mempermudah system control penjualan di masing-masing stand makanan atau alasan lainnya. Tapi bagi saya system ini sangat mempermudah para pelanggan. Akan sangat ribet bila kita harus membawa duit sambil berenang, basah semua donk duitnya?

Sistem ini membuat saya kagum sekaligus membuat saya ngeri. Apakah ini gambaran saat jaman Anti Chris? Apakah di jaman anti Chris akan dijalankan system ini untuk mendapatkan makanan? Semoga ini hanyalah pikiran negative saya saja. Amit-amit jangan sampai terjadi ya…

Yang paling mendominasi di waterboom adalah wisatawan dari Jawa Timur. Bagaimana saya tau? Tentu saja dari logat medoknya. Banyak teman saya yang berkata bahwa logat jawa timuran sangat medok dan nge-bass banget. Apalagi saat melafalkan huruf B..Hahahahahaha…Bangga jadi orang Jawa, khas sekali kan? :p

Tapi saya paling bête saat mendengar orang yang sok-sok ngomong bhs inggris (tapi dengan logat jawa timuran). Contohnya tadi ada seorang bapak yang bilang ke anaknya, “ Ayo, take a Bath”. Bagian B di kata2 bath full banget bassnya…Sampe ngakak saya mendengarnya. Please deh om, kalo memang tidak bisa ngomong Inggris dengan logat yang bener, mending jangan ngomong bahasa inggris, pake bahasa jawa aja, “Ayo nak, kita adus…” *_*

Ada hal yang menarik perhatian saya. Saat itu berlangsung final Piala AFF dan lagi heboh timnas Indonesia plus slogan “Garuda di dadaku”. Yang menarik, saya menemukan 10 wanita dengan tato garuda di punggung mereka. Begitu dahsyatnya pengaruh timnas sampai tato garuda juga turut popular d Bali. Note : Tato garuda bukan di bagian dada, tapi di punggung.. Mungkin cewek-cewek itu malu kali ya tato di dada, tar dipikirnya Jupe lagi🙂

Intinya, kami sekeluarga senang bermain di Waterboom. Waterboom adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu berlibur dengan keluarga.

Tapi sayangnya, saya sempet kecewa dan kesel saat karyawan waterboom masuk ke kamar ganti perempuan dan teriak-teriak (sambil gedor pintu kamar mandi),”Ayo cepet sedikit mandinya, sudah jam 7 malam, kami mau tutup.” Saya pun membalas dengan nada bete tingkat tinggi,. “Mbak, dari tadi kami antri. Kan mbak tau kalo pengunjungnya banyak secara ini hi-season di Bali. Kalo mbak mau kita cepet selesai, tambah donk fasilitas kamar mandi untuk menampung pengunjung yang banyak di saat hi-season.”

Yeah, sepertinya tidak fair dan tidak bijaksana bila sebuah arena bermain dengan standart internasional seperti waterboom memperlakukan pengunjung seperti tahanan penjara. Harus mandi cepat-cepat, pake acara dibentak pula.

Menurut saya, sayang apabila image Waterboom yang wah harus dihancurkan oleh pelayanan yang buruk dari seorang karyawannya. Ingat ya, sekarang adalah era dimana kepuasan pelanggan adalah yang terpenting. So, excellent service is a must.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s