Character Building

Menurut saya pendidikan yang harus diberikan kepada balita adalah pendidikan mengenai karakter dan agama. Bukannya pendidikan akademis seperti matematika dan bahasa inggris. Pada postingan blog sebelumnya, saya sudah bercerita mengenai competitive mommy yang mengharuskan anaknya menjadi Super Baby. 

Anak-anak balita tidak dapat membedakan benar dan salah. Seringkali keputusan mereka dipengaruhi oleh orang tua, pengasuh, dan teman, serta berdasarkan pengalaman mereka sendiri (misal, karena tahu bahwa jatuh itu sakit, maka mereka akan lebih berhati-hati saat berjalan dilantai licin).

Itulah mengapa masa balita adalah saat yang paling tepat untuk membangun kepercayaan antara anak dengan orang tua. Kepercayaan antara saya dengan Nicole saya bentuk dengan cara tidak pernah berbohong kepada dia, bahkan dalam hal terkecil sekalipun.

Contoh, pada saat anak tidak mau makan seringkali orang tua akan berkata, “Ayo cepet makan, habis ini kita akan pergi” (tapi setelah si anak selesai makan malah tidak pergi). Atau saat mau ke dokter, “Suntik itu ga sakit”. Tapi nyatanya sakit banget….

Orang tua berpikiran anak balita tidak ingat dengan janji yang mereka buat. Salah besar !!! Sejak berumur 2,5 tahun Nicole sudah bisa mengingat dan menagih janji. Itulah mengapa  saya lebih memilih untuk menjanjikan sesuatu yang dapat saya tepati.  Saya lebih memilih untuk berkata, “Nicole, ayo cepat makan, habis makan kita baru nonton TV”, “Nicole, suntik itu sakit, tapi cuman sebentar dan itu juga untuk kebaikan kamu”.

Pendidikan agama juga tidak kalah penting. Melalui fondasi agama yang kuat, kita dapat membentuk karakter anak yang baik, antara lain anak yang taat Tuhan, tidak pernah berbohong, selalu menghormati orang tua, dsb.

Kisah favorit saya dan Nicole dalam alkitab adalah Nabi Nuh. Kisah ini dapat diserap dengan mudah oleh anak-anak, yaitu bahwa kita harus taat kepada Tuhan dalam kondisi apapun. Dulu saya menganggap kisah ini rada aneh, ngapain ya Tuhan nyuruh ikan memakan nabi Nuh, kenapa ga dihukum dengan cara lain saja? Ternyata cara ini adalah cara mujarab untuk bercerita kepada anak-anak… Thanks to my creative God !!!

Kita sebagai orang tua hanya bisa memperlengkapi anak dengan value positif yang alkitabiah. Ingat bahwa anak tidak hidup sendiri di dunia ini. Mereka ke sekolah, bertemu dengan teman-teman, dan bersosialisasi. Kita tidak bisa mengontrol apakah pergaulan mereka baik atau tidak.

Hari ini sepulang dari sekolah tiba-tiba Nicole jungkir balik di atas ranjang (video ada disini). Saya bingung. Siapa yang ngajarin? Saya pun bertanya kepada Sisi, pengasuh anak saya, yang ikut menjaga Nicole di sekolah. Sisi pun menjawab kalo Nicole meniru teman sekelasnya.

Oh well, orangtua tidak bisa memonitor anaknya 24 jam. Kita tidak dapat menentukan/membentuk lingkungan dan pergaulan anak. Bisa jadi lingkungan dan pergaulannya baik, namun kita juga perlu menyiapkan mental apabila pergaulannya buruk.

Anak akan selalu menerima pengaruh-pengaruh dari temannya. Sebagai anak yang masih kecil mereka belum tahu mana yang benar dan salah. Itulah mengapa character building sangat penting. Dan ini hanya bisa diperoleh dari kita sebagai orang tua, orang terdekat mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s