40 derajat

Minggu, 22 Maret 2011, malam,  tiba-tiba Nicole panas hingga 40 derajat.

Saya bingung dan khawatir. Seumur hidup Nicole tidak pernah panas hingga 40 derajat. Selain itu tadi siang Nicole masih sehat-sehat saja. Dia menghadiri pesta ulang tahun anak kenalan kami. Di pesta itupun dia terlihat ceria dan bersemangat.

Saya pun memberi paracetamol kepada Nicole. Namun panasnya tidak kunjung turun. Baik saya maupun suami takut apabila Nicole kejang. Konon menurut orang tua kami, kejang dapat menyebabkan anak bodoh saat dewasa nanti. Sebenarnya kami tidak terlalu percaya dengan omongan ini, namun karena panik, hal ini mengintimidasi pemikiran saya.

Suami pun mengkompres Nicole. Sepanjang malam hubby mengukur suhu tubuh Nicole, tanpa henti mengkompres dan memberikan paracetamol per 4 jam. Saat itu saya bener-bener merasa terberkati dengan kehadiran suami. Oh well, im so lucky….So proud of him.

Keesokan harinya, panas Nicole mulai turun. Namun malamnya naik hingga 40 derajat lagi.

Kami pun bertanya-tanya, ada apa dengan anak kami?

Apakah dia terkena malaria? Secara Labuan Bajo merupakan daerah malaria. Atau jangan-jangan dia terkena tipes?

Senin, 28 maret 2011, pukul 8 malam kami menghubungi seorang dokter di Labuan Bajo. Ternyata beliau sudah pulang dari tempat prakteknya. Lalu saya pun bertanya, “Dok, apa boleh saya ke rumah anda? Anak saya panas sekali hingga 40 derajat” Si dokter menjawab, “Oh, saya tidak bawa alat periksa ke rumah saya”

WTF????? Saya ga habis pikir sama ini dokter. Kok segitu teganya membiarkan anak saya? Gimana kalo anak saya kenapa-kenapa? Bukannya seorang dokter seharusnya memperjuangkan pasiennya?

Saya ga putus asa. Saya pun menelepon Dr. Arya, DSA langganan kami di Surabaya. Namun Dr. Arya tidak mau memberi obat, sebab dia tidak melihat kondisi anak saya  secara langsung dengan jelas. Dr. Arya ini sangat perfectionist, dia tidak mau asal memberi obat tanpa diagnosa jelas.

Lalu saya menghubungi Dr. Dwi, DSA Ruteng. Fyi, ruteng merupakan kota lain yang jaraknya 3 jam dari Labuan Bajo. Atas penjelasan saya mengenai gejala Nicole, beliau pun mau memberi obat. Dr. Dwi menyuruh saya ke apotek terdekat. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan bersyukur sekali saat itu ada apotek yang masih buka.

Dr. Dwi meminta saya untuk menyambungkan telepon kepada apoteker di apotek tersebut. Dr. Dwi pun mulai meresepkan obat untuk Nicole. Untung banget ada Dr. Dwi, setidaknya Nicole masih tertolong.  Thanks Doc🙂

Keesokan harinya, panas Nicole mulai turun. Walaupun sudah turun, suami memutuskan bahwa saya dan Nicole kudu tetap ke Surabaya. Suami takut Nicole terkena malaria atau DB.

Untungnya (pasti ini karena campur tangan Tuhan), saya dan Nicole mendapat tiket pesawat ke Surabaya menggunakan pesawat Transnusa.

Puji Tuhan, kami sampai di Surabaya dengan keadaan selamat. Sesampainya di Surabaya, saya langsung membawa Nicole ke Dr. Arya, dokter langganan saya.

Saya akan menceritakan hasil diagnosa Nicole di blog selanjutnya.

Oh well, bagi saya, hari ini bener-bener hari yang melelahkan plus menguras emosi. Sebagai seorang mama saya paling stress kalau Nicole sakit dan tidak ada dokter yang bisa membantu kami.

Tapi dari pengalaman saya, Tuhan itu sungguh teramat baik. Di tengah-tengah kondisi yang serba tidak jelas, Tuhan tetap melindungi Nicole. Memberikan kesembuhan dan segala kemudahan hingga kami dapat menerima pertolongan dari Dr. Dwi, menemukan apotek yang masih buka pukul 9 malam, dan mendapat tiket pesawat hingga dapat  segera sampai di Surabaya.

Awesome !!! U R MY SAVIOR…Love u Jesus🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s