Pesawat maut + kasih karunia = keselamatan

31 Maret 2011 merupakan hari yang paling menakutkan seumur hidup saya.

Hari itu saya dan Nicole melakukan perjalanan dari Surabaya ke Labuan Bajo. Fyi, semua penerbangan dari Surabaya harus transit terlebih dahulu di Denpasar sebelum ke Labuan Bajo.

Untuk memudahkan perjalanan kami, saya membeli tiket Wings Air secara langsung dari Surabaya ke Labuan Bajo. Memang sih tetep kudu transit di Bali, tapi at least saya ga perlu repot oper bagasi dari satu pesawat ke pesawat lainnya.

Penerbangan pertama kami dari Surabaya-Denpasar sangat lancar. Wings air terbang sesuai dengan jadwal, tidak ada delay dan cuaca saat itu sangat cerah.

Namun tidak demikian halnya dengan penerbangan kedua kami dari Denpasar-Labuan Bajo. Penerbangan yang semula dijadwalkan pukul 12.55 mengalami keterlambatan hingga hampir 2 jam. Kami para penumpang sudah BT setengah mati menunggu keberangkatan pesawat ke Labuan Bajo.

Cuaca di Denpasar pun berangsur-angsur mendung. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya penumpang Wings Air tujuan Labuan Bajo pun dipanggil untuk memasuki pesawat.

1

(nicole berjalan menuju pesawat)

2(saat itu antrian masuk ke pesawat sangat panjang, saking capeknya Nicole duduk di atas kardus barang)

Ditengah-tengah perjalanan (kira-kira satu jam setelah terbang) pesawat mengalami guncangan. Pilot pun memberikan pengumuman bahwa cuaca sedang jelek dan kami penumpang diharuskan untuk tetap menggunakan sabuk pengaman.

Saat itu cuaca bener-bener jelek. Pesawat mengalami guncangan yang dahsyat. Pesawat terguncang naik dan turun. Saya pun mengintip keluar jendela. Saya tidak bisa melihat pulau di bawah seperti biasa. Padahal biasanya saya bisa melihat pemandangan di bawah sana, entah itu pulau, laut, ataupun rumah-rumah. Kali ini saya tidak melihat apapun.

Bukannya semakin bagus, cuaca saat itu malah bertambah semakin jelek. Semua penumpang mulai panik. Sayup-sayup saya mendengar banyak penumpang berdoa. Kian lama doa dari para penumpang tersebut semakin bertambah keras.

Kepanikan dan ketakutan penumpang makin menjadi-jadi setelah pesawat kami tidak berhasil turun ke Labuan Bajo. Padahal saat itu roda pesawat sudah keluar, tapi pesawat harus naik lagi sebab saat itu Labuan Bajo hujan deras. Jarak pandang pilot sangat terganggu.

Lalu terdengar pengumuman lanjutan dari pilot. Pak pilot berkata bahwa cuaca di Labuan Bajo sangat jelek, hujan sangat deras. Pesawat tidak mungkin turun di Labuan Bajo. Akhirnya kami harus diturunkan di Ende. FYI, ende adalah sebuah kota di Flores yang terletak kurang lebih 12 jam perjalanan dengan mobil dari Labuan Bajo.

Saat itu saya hanya mikir, “Terserah deh mau turun dimana, yang penting kami selamat”.

Jujur saat itu saya sudah ketakutan setengah mati. Saya berdoa tiada henti selama perjalanan. Saya berkata, “Tuhan, saya tidak siap mati. Saya masih banyak dosa. Saya tidak mau masuk neraka. Kasihani saya dan anak saya. Tuhan, lihat anak saya, dia masih kecil. Beri dia kesempatan untuk hidup”.

Saya pun mulai bernegosiasi dengan Tuhan, “Ayo Tuhan, ubah cuaca ini menjadi lebih baik. Jika saya selamat saya akan lebih serius mengikuti Engkau..Saya akan pelayanan, saya akan melakukan yang terbaik untukMu.”

Saya tidak siap mati. Masih begitu banyak hal yang harus saya lakukan. Masih begitu banyak rencana-rencana yang belum terealisasikan dalam hidup saya. Gimana jika saya mati lalu harus menghadap Tuhan, dan Tuhan bertanya “Kamu sudah melakukan apa saja di bumi?” Sepertinya saya malu jika harus menjawab, I do nothing, Lord.

Sialnya, penerbangan dari Labuan Bajo ke Ende sama menakutkannya dengan perjalanan sebelumnya. Cuaca tidak bertambah baik. Pesawat tetap mengalami guncangan. Saya pun pasrah….

“Tuhan, kalo Engkau mau saya mati sekarang, terserah Tuhan. Tuhan ampuni semua kesalahan saya…”

Ajaibnya, beberapa saat kemudian pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi kami akan memasuki Ende.

Wow….saat itu perasaan saya dipenuhi dengan rasa syukur.

Amazing….!!! Kami sampai ke Ende dengan keadaaan selamat.

Begitu menginjakkan kaki di Ende, seluruh penumpang lega. Banyak diantara kami yang menangis sambil bersyukur kepada Tuhan…Bahkan Romo Ivan, salah satu romo Labuan Bajo yang juga merupakan penumpang di pesawat itu berkata, “Kalau saya harus mati, saya lebih memilih untuk mati di darat daripada di atas tadi…”

Oh well…Kita sebagai manusia pasti mati…Tidak tau kapan waktunya…Pertanyaannya, apakah saat mau mati kita sudah siap menghadap Allah Bapa? Apakah kita sudah melakukan yang terbaik selama di bumi?

Peristiwa ini mengingatkan saya, bahwa hidup kita semua adalah untuk Kristus. Hidup bukan masalah surga dan neraka, tapi bagaimana kita menjadikan hidup kita bagi kemuliaan Allah.

Mulai dari saat ini, saya akan hidup seperti besok akan mati. Saya akan memaksimalkan hidup saya, lagi dan lagi….

Thanks God…I love you *_*

 

One thought on “Pesawat maut + kasih karunia = keselamatan

  1. Pingback: Wings Air, u make me upset !!! | juicymomdiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s