Kenapa saya nge-blog?

Saya memulai kegemaran nge-blog sejak duduk di bangku kuliah. Alasan saya ngeblog sangat simple.

Awalnya saya ngeblog karena saya ingin mencatat perjalanan sehari-hari saya sebagai mahasiswa kala itu. Kan seru tuh kehidupan remaja, ada alaynya, ada lebaynya belum lagi drama percintaan yang terjadi kala itu…Hadeuh…Hebohnya ngalah-ngalahin sinetron. LOL…

Sayangnya banyak tulisan saat remaja yang saya hapus di blog saya sebelumnya (Multiply). Abisnya lebaynya keterlaluan. Bikin pusing dan sakit mata pas bacanya…LOL..Baru nyadar kalo saya alay saat itu..Hahahaha…

Lalu kehidupan remaja berganti dengan kehidupan sebagai istri dan ibu. Ternyata kehidupan baru saya ini jauh lebih menarik dibandingkan sebelumnya. Apalagi dengan kehadiran anak-anak saya…Ada banyak hal berharga yang saya lewatkan bersama anak-anak yang rasanya sayang banget kalo terlupakan begitu aja.

Di sisi lain, saya berharap agar tulisan di blog ini bisa menjadi inspirasi dan warisan bagi anak-anak saya kelak. Sebagai manusia, kita ga tau sampai kapan akan hidup bukan? That’s why saya ingin anak-anak saya bisa mendapatkan sesuatu dari blog saya. Entah itu nilai berharga yang dapat berguna bagi kehidupan mereka kelak, ataupun mereka bisa lebih mengenal pemikiran saya sebagai ibu mereka.

Selain hal-hal diatas, ada satu hal lagi yang mendorong saya menulis blog, yaitu kecintaan akan make up, perawatan wajah, fashion, dan hal-hal terkait lainnya. Selama ini cukup banyak teman-teman saya yang bertanya mengenai produk kecantikan kepada saya. Nah saya pikir akan lebih baik jika saya menuliskan review, sapa tahu review saya bisa berguna untuk orang lain.

Dari sinilah kecintaan akan blog makin memuncak. Sepertinya ada saja yang ingin saya ceritakan dalam blog ini, baik sesuatu yang besar ataupun hal-hal kecil sekalipun, pengen semuanya diceritakan di blog ini.

Walau ini blog pribadi, namun seiring dengan perjalanannya, ada juga hambatan/kendala yang saya temui dalam penulisannya. Hambatan yang saya alami seringkali datang dari pihak ketiga. Pernah suatu kali saya ingin memfoto sebuah butik di Bali, karena menurut saya butik ini bagus bener. Tapi setelah mengambil beberapa foto, saya malah dimarahin sama staff disana. Katanya ga bole ambil foto.

Kemudian saya juga mengalami kejadian serupa di sebuah klinik kecantikan di Malang. Saat itu saya habis melakukan perawatan wajah di sana. Lalu seperti biasa saya mulai mengambil foto step-step facialnya, interior di klinik itu, dsb. Tujuan saya untuk dimasukin di blog tentunya. Eh tiba-tiba datanglah manager dari klinik ini yang kemudian menghapus foto-foto di kamera saya (akan saya ceritakan di blog selanjutnya).

Dari dua kejadian ini saya jadi berpikir… Mestinya sebagai seorang konsumen yang sudah membayar jasa saya berhak untuk mendokumentasikan pengalaman saya itu. Ibaratnya saya pergi melancong ke sebuah pantai, sah kan jika saya mengambil foto-foto saat saya ke Pantai?

Mungkin ada yang berpikir, ga bisa donk disamakan antara pergi melancong ke sebuah tempat wisata dengan pergi ke sebuah butik atau klinik kecantikan.I tell you what…Dalam kasus saya –> SAMA…

Kok bisa?

Sebagai seorang pecinta kecantikan, kunjungan saya ke sebuah klinik bisa disamakan dengan kunjungan saya ke pantai atau tempat-tempat wisata lainnya. Fyi, saya bukan tipe orang yang suka refreshing dengan cara berjalan-jalan ke luar negeri, ke pantai, ke gunung, ataupun ke tempat-tempat wisata lainnya. Refreshing ala saya adalah shopping, melakukan perawatan wajah di klinik kecantikan, atau meni pedi di salon.

Saat saya mulai suntuk atau bosan dengan rutinitas, saya selalu menghabiskan waktu dengan hal-hal itu. Malah fyi, saya paling males ke luar negeri, ke objek-objek wisata, dan kawan-kawannya….

Seringkali teman-teman saya bilang, “Wah kamu untung banget ya bisa tinggal di Labuan Bajo. Labuan Bajo kan cakep banget pemandangannya, belum lagi situs divingnya. Pasti selama kamu di sana diving mulu yak?” Sayang sekali saudara-saudara, saya bukan anak alam. Jujur nih ya, saya malahan ga pernah yang namanya jalan-jalan di sekitar Labuan Bajo. Diving apalagi, ga pernah sama sekali.

Lalu apa yang saya lakukan selama di Labuan Bajo? Diem aja di rumah, hang out bersama sahabat di resto, liat make up tutorial di Youtube, coba-coba ber makeup ala beauty guru (trus kalo dah make up dihapus lagi…LOL), blogging, dan nonton film Korea…Duh ga produktif banget ya saya😀

Back to the topic…

Bagi saya, wajar kalo saya mau ambil foto. Tapi masalahnya pihak klinik, butik, salon selalu menganggap orang yang mengambil foto sama dengan competitor yang mau mencuri ide mereka. Oh well…In my opinion, sebuah hasil kreasi ataupun jasa merupakan suatu hal yang susah untuk ditiru.

Lets say sebuah klinik. Ga segampang itu competitor langsung menjiplak abis sebuah klinik hanya dengan berbekal kamera. Gampangnya gini…Yang difoto kan interiornya, sedangkan kesuksesan sebuah klinik kecantikan tidak ditentukan oleh interiornya. Interior hanya pendukung, bukan? Klinik kecantikan ditentukan oleh : bahan berkualitas, skill therapis, teknologi penunjang yang digunakan (alat-alat untuk facial dsb).

Demikian juga dengan sebuah gaun.  Gaun itu ga bisa ditiru. Yang bisa ditiru adalah modelnya. Tapi designer aslinya tentu berbeda dengan designer yang akan menembak modelnya. Apa bedanya? Bedanya ada di cutting baju yang berpegaruh pada keindahan gaun itu sendiri, dsb.

Makanya sebuah industry fashion dan jasa merupakan industry yang rada susah untuk dicontek. Selain itu, mestinya orang-orang ini ga usa takut bakalan dicontoh. Itu tandanya mereka ga boleh berpuas diri. Harus selalu melakukan improvement atas hasil karya dan jasa/product mereka.

Dan semestinya, pihak-pihak ini harus berterimakasih kepada para blogger. Jika si blogger puas dengan pelayananan mereka, tentunya si blogger akan menuliskan review yang oke bagi si penyedia barang / jasa. Bukannya ini termasuk cara beriklan yang mudah, murah, dan efektif? Secara konsumen sudah pintar sekarang, tidak mudah tertipu iklan dan lebih percaya dengan review sesama konsumen.

Dari hambatan yang saya temui ini saya juga melakukan introspeksi diri. Mungkin sebaiknya para blogger (saya khususnya) juga perlu meminta ijin mengambil gambar. Oh well, padahal  kalau dipikir dengan akal sehat ini sesuatu yang ga perlu dilakukan. Wong ini juga blog pribadi saya sendiri, suka-suka donk mau nulis apapun.

Tapi apa mau dikata? Daripada dianggap sebagai competitor yang ingin mencuri ide, mungkin lebih baik jika saya dikenal sebagai blogger yang akan mempromosikan mereka secara gratis..

Bagaimana dengan Anda my blogger fellas? Pernah mengalami kejadian serupa? Let’s share !!! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s